Posts tagged ‘puisi’

02/07/2012

Selalu Terjadi

Pagi ini,
sebelum mentari menancapkan cakar sinarnya di halaman rumahku
Sebelum kabut tipis makin menipis,
dan embun masih membeku diam di ujung dedaunan
Aku berdiri di sini
Seperti yang selalu terjadi

Tangan kananku menjepit batang rokok di sela jemari,
tangan kiri menggenggam segelas kopi kental
yang masih mengepulkan asap putih,
seputih kabut
Seperti yang selalu terjadi

read more »

Iklan
Tag: , ,
30/12/2011

Ketika Dikuasai Ketika

ketika aku ingin menulis sesuatu, kenapa kata ‘ketika’ selalu yang pertama melintas di benak?

apa iya ndak ada kata lain yang bisa kugunakan?

atau karena koleksi kata2ku sudah rusak dan tidak berbekas lagi selain kata ‘ketika’?

ketika…kata ‘ketika’ menguasai, aku lantas berhenti, dan urung melanjutkan tulisan, karena aku sudah bosan dengan ‘ketika’

‘ketika’ membuatku tumpul. .

‘ketika’ membuatku dangkal..

read more »

12/03/2010

Hujan bikin bingung

Sudah lama hujan tak sederas ini. Tiap tetesnya menghujam begitu dalam mengoyak tanah memecah batuan. Dan aku hanya bisa memandang dari balik jendela rumah tanpa mampu merasakan tajamnya sengatan air hujan. Gemuruh menderu menyusup ke dalam setiap sudut ruang,

read more »

16/10/2009

Janji dengan Bidadari

Inilah tempatnya. Tak salah lagi.

Tempat yang sudah kami sepakati bersama.

Pagi yang cerah. Lalu lalang manusia melintas dengan senyum cerah di wajah. Mungkin mereka juga berpikir sama dengan aku. Bahwa hari ini adalah hari yang penting.

Sepagi ini sudah terlihat banyak kegiatan di jalan yang aku lalui ini. Para pedagang kaki lima sudah sibuk membuka kiosnya. Anak-anak jalanan bersimbah debu sibuk bermanuver di antara padatnya mobil, sambil mengacungkan tangan memohon sedekah. Ada yang nekad menempelkan wajah di kaca mobil, entah saking putus asanya atau salah satu strategi agar pengendara merasa terganggu sehingga dengan cepat memberikan sedikit uang receh agar mereka segera pergi.

read more »

01/10/2009

bencana melanda : gempa sumatera vs kebakaran lawu

Alam meradang! hanya itu yang melintas dalam benak saya ketika membuka halaman kompas dan detik. Judul-judul artikelnya membuat hati saya miris. 71 Jenazah Dievakuasi ke RSU M. Jamil, Kerusakan Setara Gempa Yogyakarta, Sudah 37 Mayat Tewas Ditemukan, Ratusan Warga terjebak di Gedung Bertingkat. Belum lagi artikel tentang kebakaran lereng gunung lawu yang sudah menghanguskan sekitar 1.500 hektar hutan. Bencana melanda dimana-mana. Kebakaran di hutan gunung Lawu belum selesai disusul dengan gempa di Sumatera. Prihatin…

Saya nggak tahu harus nulis apa disini. Bingung! Saat ini saya sedang marah, marah dengan alam, marah dengan manusia, marah dengan keadaan. Mengapa bencana alam selalu terjadi? Apa kita tidak bisa melakukan sesuatu untuk mengantisipasinya? Lebih jauh apa kita tidak mampu mencegah agar tidak terjadi bencana-bencana semacam ini?

Sudah berapa ribu manusia yang terenggut nyawanya? Dan yang membuat saya lebih marah dan prihatin adalah sebagian besar bencana terjadi karena ulah kita sendiri.

Saya akan me-repost sebuah coretan puisi lama yang saya buat setelah gempa yang terjadi di Jawa Barat beberapa waktu yang lalu. Puisi ini merupakan ekspresi saya untuk menyuarakan kekesalan terhadap manusia yang tidak henti-hentinya merusak alam ini, dan sebuah tulisan yang dapat mewakili perasaan saya saat ini.

don’t enjoy it! karena ini merupakan makian bagi kita!

Mentari 45 derajat, membidik dari arah barat
ketika aku teriak, bangsat !
kenapa kau rusak aku ?

Kalian babat hutanku, dan banjir merajalela
Kalian tak pernah jera
dasar manusia tak berakhlak berotak botak
kalian bahkan kuliti aku, beset dagingku, jarah darahku
dan aku sekarat

saat bencana menyapa ribuan nyawa
“Aku kapok” menggema, tapi ternyata tidak !
dalam keadaan setengah mati
aku tetap kalian gagahi
sperma busuk merasuki, mengalir jauh merusak rahim

dan aku hanya diam dalam kesedihan
melihat nyawa berlomba pergi dari sisi,
kasihan kalian…
karena kerusakan demi kerusakan telah terakumulasi
menunggu waktu menuju kebinasaan

Bumi terevolusi menjadi bom sejati…

Kalian gemborkan nama noordin,
seekor anjing yang membuat kalian merinding
bak kucing bunting berbibir sumbing disiram air kencing

Bah! Dasar noordin sinting !
Keturunan raja maling !

tapi aku, akulah yang harus kalian takuti !
karena aku mampu berbuat seratus kali lebih dari
si anjing noordin

setiap aku goyangkan kelingking,
sebuah kota terpontang-panting
jika lengan yang kugerakkan,
bencana kan melanda

aku bukan Tuhan, aku bukan kalian
aku hanyalah bumi yang sudah hampir mati

rawatlah aku, dan kan aku rawat kalian

saat ini,
memang sudah hampir terlambat,
tapi tiada kata telat tuk bertobat

aku sayang kalian, tapi ku tak mampu menahan jika sendiri

dan lagi-lagi,
kalian mengutuk aku karena jawa barat bergoyang bukan karawang,
tapi bergoyang penuh pengorbanan

aku tak ingin terjadi lagi tragedi
ribuan nyawa melayang, jangan biarkan terulang

by linduaji

Untuk para korban bencana alam dimanapun. Saya sebagai salah satu “perusak alam” memohon maaf kepada kalian.  Saya masih yakin bahwa Tuhan akan membuat segalanya indah pada waktunya.

God bless you all…

29/09/2009

write and share : penemuan embun bening

Dalam  posting sebelumnya sempat aku singgung mengenai nama putriku yang tercinta. TETES EMBUN BENING ANAKKU.

Ya, memang banyak yang bilang namanya unik, sedikit aneh, menarik, sampai bagus. Macam-macam memang pendapat mereka. Tapi ada sedikit cerita menarik di balik penemuan nama ini. Dan akan sedikit aku ceritakan disini. Jangan bosan ya? 🙂

Semua berawal dari masa-masa kehamilan isteriku yang sudah beberapa bulan. Waktu itu aku punya keyakinan yang luar biasa bahwa anakku nantinya akan terlahir laki-laki. Oleh karena itu pula nama yang aku persiapkan adalah nama untuk bocah laki-laki.

Lebih jauh lagi dengan begitu bodoh dan naifnya dalam nama itu aku sebutkan waktu terlahirnya ke dunia. Luar biasa bodoh bukan keyakinanku?

Memang siapa aku ini, berani-beraninya mencoba untuk mendahului kehendak Tuhan.

Padahal waktu USG dokternya sendiri bilang kalau kelaminnya tertutup tali pusat atau ari-ari, jadi dia tidak bisa memastikan apakah laki-laki atau cewek. Keluarga juga sudah menyarankan untuk mempersiapkan dua nama, cowok dan cewek. Tapi seperti yang aku bilang tadi, waktu itu aku sombong dengan keyakinanku. Mungkin aku berpikir bahwa kalau kita yakin Tuhan pasti akan mewujudkan. Hmmm….soooo naif!

Dan benarlah keyakinanku yang sudah luar biasa kuat ternyata nggak ada apa-apanya dibandingkan kekuasaan Tuhan (tentu saja kan?), dan jadilah hari itu anakku terlahir dengan kelamin perempuan dan di waktu yang sama sekali berbeda dengan apa yang aku perkirakan. 😦

Tapi, perlu dijelaskan bahwa aku sama sekali tidak menyesal dengan jenis kelamin anakku. Aku sudah luar biasa bahagia dengan lahirnya dia di dunia ini dengan selamat dan sehat. Thanks to God for that…

Kemudian sesaat setelah anakku lahir, tibalah saat yang dinanti-nanti. Ibuku bertanya kepadaku, “Jenenge sopo?’ (namanya siapa?).

Pertanyaan simpel yang wajar tapi pada waktu itu aku kaget luar biasa dan baru nyadar kalau aku belum mempersiapkan nama cewek. Dan tentu saja aku terdiam nggak bisa jawab.

“Nanti juga tahu…” bisikku. Aku lalu keluar dari ruangan dan bermodal kepulan asap rokok aku mulai corat-coret di kertas buram. Hanya corat-coret sekedarnya…dan inilah hasil corat-coret itu (sudah diedit tentunya)

tahukah kau anakku,
detik-detik menunggu hadirmu
adalah detik-detik paling menakutkan dalam hidupku
rintih Ibumu terdengar sumbang,
gurat kerut wajahnya mendalam,
seiring semakin dekatnya sebuah kata :
lahir…

tapi, tahukah kau anakku,
engkaulah keindahan!
yang pantas untuk segala rasa ini
karena saat kau tiba…
itulah surga!

hadirmu, tangismu…
laksana TETES EMBUN BENING
yang menyegarkan hati kering kami,
menghapus segala rasa yang menghantui,
obat dari segala obat!

titipan Tuhan yang boleh kuakui sebagai ANAKKU

aku bukanlah orang yang pintar mencari nama
aku hanya sedikit lebih bisa mengolah kata
tuk itu anakku, aku berikan serangkai kata
“TETES EMBUN BENING ANAKKU”
sebagai sebutan bagimu…
manfaatkan, gunakan, sematkan dalam jiwa dengan bangga!
dan suatu saat nanti…
sejukkanlah dunia yang sudah mulai rusak ini
dengan “embun beningmu”

coretan puisi ini pernah aku post disini