Posts tagged ‘cerpen’

05/07/2012

Sekar dan Sembilan Lembar Tiket

21-08-2004. PukulĀ  04.14,

ICU

Kamar itu, terlihat sumbang. Tidak seperti kemarin, tidak seperti waktu pertama kali mereka membawa gadis itu ke sini. Seorang gadis yang cantik. Hanya itu kata yang tepat untuk menggambarkan keadaannya. Cantik. Meskipun saat itu wajahnya penuh darah, dia tetap cantik.

Terlihat 2 manusia dalam kamar itu. Sebuah kamar yang sumbang. Satu, sedang duduk tertidur bersandar kursi. Wajahnya dihias keriput lembut di beberapa titik. Tenang, bijaksana, nafasnya lembut wangi. Semerbak memenuhi kamar.

Penghuni yang kedua, tentu saja adalah dia. Gadis itu, gadis yang tergolek lemas di ranjang itu. Dengan wajah bercahaya, kepalanya masih dibungkus perban. Dia tidur dan terlihat nafasnya keluar masuk dengan perlahan.

read more »

30/10/2009

Tawaran dari Iblis

Mereka terlihat duduk bersama dalam diam.

Saling pandang dalam hening, sampai salah satu dari mereka memecahkan sepi saat dia berkata,

“Aku tahu siapa kamu…”

Tapi ‘dia’ tidak menjawab, pandangan matanya tajam menelusuri wajah pria perlente di depannya.

“Reputasimu sudah aku dengar. Aku punya penawaran yang mungkin menarik untukmu…”

read more »

27/10/2009

Tattoo, Wanita Pemberani dan Seorang Bayi

Dia terlahir tanpa nama, sepanjang yang dia ingat orang-orang memanggilnya dengan sebutan Tattoo. Dia tidak tahu kapan dan siapa yang membuat gambar itu di punggungnya. Sepanjang yang dia ingat, gambar itu sudah melekat di sana.

Hanya bisa hilang kalau dia mati…

read more »

26/10/2009

write and share : sudah tua kok bikin novel remaja

Berkali-kali aku baca deretan kalimat di draft naskah yang aku buatĀ  dulu. Novel yang beberapa adegannya sudah aku post di blog ini. Ada tiga adegan : satu, dua, tiga.

Setiap aku coba untuk melanjutkan cerita ini kenapa kok nggak pernah nyambung lagi ya? Beberapa paragraf yang aku buat rasanya kok nggak ‘sejiwa’ dengan kalimat-kalimat sebelumnya. Apa mungkin karena the man behind this story (its me) sudah berubah?

read more »

25/10/2009

tentang Wisnu (petikan dari novel g*g*l lagi)

Bising…itulah kata-kata yang tepat untuk menggambarkan kantin sekolahku di saat jam istirahat. Gelegak tawa, teriakan-teriakan saling ejek antar teman, gurauan berbau sex, obrolan tentang lawan jenis, jerit para siswi tatkala digoda oleh para siswa, keras, melengking, memecahkan gendang telinga. Beberapa pasang muda-mudi yang sedang dimabuk asmara terlihat menyepi di pojok-pojok kantn, mencoba untuk menjauhi gangguan.

read more »

19/10/2009

write and share : petikan novel gagal(2)

beberapa saat sebelum kejadian di villa

Kami berjalan perlahan menembus dinginnya udara malam. Langkah-langkah kecil kami menyusuri jalanan batu yang tidak rata. Disusun secara sembarangan tanpa memperdulikan kerapian. Tapi memang seperti itulah seharusnya. Semerawut tetapi pas!

Jalan setapak itu menghubungkan bagian belakang villa dengan jalan raya. Malam itu adalah malam perpisahan kelas kami. Akhirnya! Setelah tiga tahun belajar membanting tulang hanya untuk sebuah status kelulusan yang belum bisa dijadikan pegangan hidup.

read more »

16/10/2009

Janji dengan Bidadari

Inilah tempatnya. Tak salah lagi.

Tempat yang sudah kami sepakati bersama.

Pagi yang cerah. Lalu lalang manusia melintas dengan senyum cerah di wajah. Mungkin mereka juga berpikir sama dengan aku. Bahwa hari ini adalah hari yang penting.

Sepagi ini sudah terlihat banyak kegiatan di jalan yang aku lalui ini. Para pedagang kaki lima sudah sibuk membuka kiosnya. Anak-anak jalanan bersimbah debu sibuk bermanuver di antara padatnya mobil, sambil mengacungkan tangan memohon sedekah. Ada yang nekad menempelkan wajah di kaca mobil, entah saking putus asanya atau salah satu strategi agar pengendara merasa terganggu sehingga dengan cepat memberikan sedikit uang receh agar mereka segera pergi.

read more »

14/10/2009

write and share : petikan dari novel gagal

Wisnu tertidur di sampingku. Bugil. Sama sepertiku.

Sedikit rasa penyesalan menyusup ke hatiku atas apa yang telah aku, kami lakukan. Tentu saja aku tahu kalau apa yang telah terjadi barusan seharusnya tidak kami lakukan. Berbagai bayangan menghantuiku. Bagaimana seandainya ayahku tahu?

read more »