Kutipan Cerita Suling Emas Karya Kho Ping Hoo

suling-emasDia melihat mulut itu tersenyum, akan tetapi matanya tetap tidak terbuka.

“Eng-moi…..Eng-moi…….” Namun gadis itu tidak menjawab dan Bu Song berlari lagi menuju air mancur. Kali ini ia mendapatkan beberapa helai daun yang ia jadikan satu dan dengan daun-daun ini ia dapat membawa air ke dalamnya. Gadis itu menelan air dan mengeluh perlahan, l;alu membuka mata. Mereka saling pandang, mata yang sayu dari Eng Eng bertemu pandang mata penuh harap-harap cemas dari Bu Song.

“Song-ko…….” Eng Eng berkata lemah, berusaha untuk tersenyum.

Bu Song segera memangku gadis itu dan gerakan ini membuat Eng Eng merintih kesakitan.

“Bagaimana, moi-moi? Apamu yang sakit? Kau tidak apa-apa bukan?” pertanyaan penuh kecemasan dilontarkjan bertubi-tubi.

Eng Eng meramkan mata, keningnya berkerut-kerut. jelas bahwa ia menderita nyeri hebat yang ditahan-tahannya, kemudian ia membuka lagi matanya dan kini bulu matanya basah, “Koko…..tiada harapan lagi……”

Seakan terhenti detik jantung Bu Song dan ia mereka-reka arti yang lain untuk kalimat itu, “……..apa……. apa maksudmu…..?”

Kembali Eng Eng meramkan mata dan ketika membukanya lagi, kini beberapa air mata mengalir turun. Ia menggeleng kepala. ” Sakit semua rasanya tubuhku……Song-ko. Kepalaku……..ah, serasa dipukul-pukul dari dalam……..dadaku…..serasa terbakar dan akan pecah……., ohhhh……”

“Eng-moi….!” Bu Song mendekap kepala itu, mengelus-elusnya seakan-akan ia hendak mengusir rasa nyeri di kepala dengan usapan dan hendak mengoper rasa panas di dadanya sendiri. “Eng-moi, kau tentu selamat. Jangan khawatir, moi-moi….. aku akan membawamu pulang, aku akan…..”

“Ssttt, diamlah….. jangan bergerak, koko…. biarkan aku menikmati pelukanmu seperti ini untuk terakhir kali….! Song-koko, kau…kau…… girangkah dijodohkan dengan aku…?”

Makin perih hati Bu Song, seakan-akan kini ditusuk-tusuk jarum. Ia menahan air mata yang hendak turun, lalu menundukkan muka menempelkan pipinya pada pipi Eng Eng, berbisik di telinganya, “Tentu saja, kekasihku, tentu saja aku girang sekali……. karena itu kau harus sembuh, kau harus selamat, kelak kita….. menikah……”

Naik sedu sedan di dada Eng Eng dan hal ini agaknya amat menimbulkan nyeri sehingga ia meramkan matanya kembali. Ketika ia membuka matanya, air matanya makin deras mengalir akan tetapi mulutnya tersenyum. “Song-ko……” Tangannya diangkat lemah, meraba-raba dan membelai dagu Bu Song yang agak berlekuk, “…….mengapa kau……girang berjodoh denganku? Apakah kau…..cinta padaku……?”

“Eng-moi…..!” Bu Song teringat akan bisikan gadis itu ketika dalam keadaan setengah sadar tadi, bisikan pengakuan cinta. “Kau masih bertanya lagi? Aku cinta kepadamu, Eng-moi. Aku mencintamu dengan seluruh jiwa ragaku…….”

“Koko……., kasihan kau……” Eng Eng merangkul leher itu dan mereka bertangisan. Bu Song tak dapat menahan diri lagi, air matanya bercucuran, bercampur dengan air mata Eng Eng di pipi gadis itu yang ia coba keringkan dengan ciumannya. Air mata yang bercampur dengan darah yang masih mengalir keluar dari hidung. Bu Song tidak peduli, ia menghisap air mata dan darah itu.

“Kasihan kau, koko…… karena aku….aku tidak akan hidup lagi…….”

“Eng moi…..! Jangan berkata begitu…..moi-moi, kau tidak…… kau tidak akan……ah, kau akan hidup bersamaku…….”

Jari-jari tangan Eng Eng menjelajahi muka pemuda itu, mengelus rambutnya seakan-akan ia hendak menggunakan saat terakhir untuk mengenal lebih dekat wajah pemuda yang sejak dahulu telah menguasai rasa kasihnya, yang dahulu hanya dapat ia pandang dan kenang saja.

“Aku tahu, koko….. aku terluka dalam hebat sekali….dalam dada…. darah mengalir di dadaku, juga di kepalaku….. tiada guna….. aku akan mati….. dalam pelukanmu.”

“Moi-moi!” Kini Bu Song menangis tersedu-sedu sambil mendekap gadis itu. “Kau tidak akan mati! Kalau kau mati, akupun ingin mati di sampingmu!” Eng Engn tersenyum mendengar ini dan kini air mata Bu Song yang membajir turun itu memasuki bibirnya yang terbuka, menimbulkan rasa segar pada kerongkongannya yang serasa panas terbakar. Tiba-tiba Eng Eng mendapatkan tenaganya kembali dan ia menolak muka Bu Song, lalu ia bangkit duduk.

Bu Song tentu saja menjadi girang sekali. “Moi-moi, kau sembuh! Kuambilkan air ya? Biar kumasak air agar air hangat-hangat dapat menyegarkan tubuhmu. Lalu kita mencari jalan naik, jangan khawatir, aku masih sanggup menggendongmu ke atas. Kita pulang!”

Eng Eng tersenyum akan tetapi menggelengkan kepalanya, lalu tangannya menepuk tanah di dekatnya memberi isyarat kepada Bu Song untuk duduk di dekatnya.

“Kau….. kau sanggulkan rambutku…..” katanya. Biarpun kelihatannya gadis itu bertenaga kembali, namun suaranya tersendat-sendat dan sukar keluarnya. Bu Song cepat melakukan perintah ini. Jari-jari tangannya menggigil. Tubuhnya sendiri terasa sakit-sakit, ditambah rasa haru dan khawatir membuat air matanya bercucuran. Matanya menjadi kabur dan beberapa kali ia mendekap dan menciumi gadis itu dengan hati hancur.

Eng Eng balas memeluk dan bahkan gadis inilah yang mengeluarkan kata-kata hiburan, kata-kata lemah yang berbisik-bisik hampirtak terdengar, “Diamlah……. koko, diamlah….. kausanggulkan rambutku….. biar rapi…..”

Bu Song berusaha membesarkan hatinya, akan tetapi bagaimana ia dapat menahan isak tangisnya ketika ia menyanggul rambut itu melihat betapa kepala Eng Eng penuh darah yang mulai membeku? Namun akhirnya berhasil juga ia menyanggul rambut gadis itu.

“Koko…. aku…. aku ingin….”Ia berhenti, sukar sekali melanjutkan kata-katanya.

Bu Song menempelkan telinga di dekat bibir yang sudah pucat itu. “Apa, moi-moi, kau ingin apa?”

“Ah, aku……. aku malu……hik……”

Bu Song memeluknya. “Katakanlah, kau mau apa, moi-moi…..”

“…..hemmm…..? ……aku ……aku ingin….. sekarang menikah denganmu.” Lalu disambungnya perlahan sekali, “aku ingin…. mati sebagai isterimu….”

“Eng-moi…..!” Bu Song tak kuat menahan tangisnya.

“Koko, jangan menangis. Maukah kau……? Maukah kau…….?”

Bu Song tak dapat menjawab, hanya mengangguk-anggukkan kepalanya dan air matanya bercucuran membasahi mukanya. Hampir pemuda ini pingsan saking perih dan sakit rasa hatinya.

“Mari kita bersumpah, koko, marilah…..”

Terpaksa Bu Song menuruti permintaan Eng Eng. Dengan susah payah ia menggandeng gadis itu, diajak berlutut sambil berpegang tangan, berlutut seperti sepasang pengantin bersembahyang. Untuk menyenangkan hati gadis itu Bu Song berkata keras-keras.

“Langit dan bumi menjadi saksi! Saat ini kami, Kam Bu Song dan Kwee Eng, menjadi suami isteri, sehidup semati……!”

Eng Eng tertawa, tertawa malu-malu dan ketika Bu Song menoleh, gadis itu merangkulnya dengan wajah penuh bahagia. Eng Eng menyembunyikan mukanya di dada Bu Song, akan tetapi pada saat itu pula nyawanya telah melayang meninggalkan raganya! Tadinya Bu Song tidak tahu, baru setelah ia merasa betapa tubuh gadis itu lemas sekali, ia mengangkat dan tahu bahwa kekasihnya itu tak bernyawa lagi.

“Eng-moi……….!!” Ia menjerit, mendekap dan roboh pingsan sambil memeluk Eng Eng.

Suling Emas, karya Kho Ping Hoo

jilid 22, hal. 3-9

9 Komentar to “Kutipan Cerita Suling Emas Karya Kho Ping Hoo”

  1. ya ampun…
    menyentuh sekali…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: