Sekar dan Sembilan Lembar Tiket

21-08-2004. Pukul  04.14,

ICU

Kamar itu, terlihat sumbang. Tidak seperti kemarin, tidak seperti waktu pertama kali mereka membawa gadis itu ke sini. Seorang gadis yang cantik. Hanya itu kata yang tepat untuk menggambarkan keadaannya. Cantik. Meskipun saat itu wajahnya penuh darah, dia tetap cantik.

Terlihat 2 manusia dalam kamar itu. Sebuah kamar yang sumbang. Satu, sedang duduk tertidur bersandar kursi. Wajahnya dihias keriput lembut di beberapa titik. Tenang, bijaksana, nafasnya lembut wangi. Semerbak memenuhi kamar.

Penghuni yang kedua, tentu saja adalah dia. Gadis itu, gadis yang tergolek lemas di ranjang itu. Dengan wajah bercahaya, kepalanya masih dibungkus perban. Dia tidur dan terlihat nafasnya keluar masuk dengan perlahan.

20-08-2001. Pukul 05.40,

Stasiun

Kabut tipis masih menyelimuti udara Stasiun. Sekar sudah terlihat duduk di ruang tunggu menanti kereta yang akan membawanya ke Jogja. Bertemu dengan Widi, untuk merayakan hari istimewa ini.

Tak terasa sudah satu tahun. Sudah banyak kejadian mereka alami, pertengkaran, kemesraan.

Tapi belum cukup banyak, aku masih ingin mengalami yang lebih!

20-08-2000. Pukul 19.38,

Teras Rumah Sekar

Malam yang indah. Aku selalu merasakan sensasi ini tiap kali aku melihat cinta. Sama seperti malam ini, saat pemuda itu menggenggam tangan sang gadis dan berkata aku sayang kamu. Aku tahu mereka memiliki cinta yang murni. Aku bisa merasakan itu. Aku memang dikhususkan untuk hal ini.

Dari sini, aku melihat gadis itu tersipu. Gadis yang cantik. Perlahan aku mendekati mereka. Mereka terlihat bercahaya, sinar keemasan memancar. Menyilaukan.

Semoga kalian bahagia selamanya, bisikku…

Aku pandangi pasangan itu sekali lagi. Sebelum aku mengembangkan sayap dan terbang menjauh dari tempat ini. Kepakan sayapku menimbulkan hembusan angin yang menyibakkan rambut sang gadis. Dengan lembut pemuda itu merapikan helai rambut yang menutupi wajah kekasihnya.

Dan merekapun tersenyum merayakan cinta.

27-08-2004. Pukul 11.53,

ICU

Setelah mengalami koma selama tujuh hari, Sekar akhirnya sadar. Dia bangkit dari kematian hanya untuk…

“Widi…?”, suara itu seperti terdengar dari dimensi lain. Pelan, aneh, gemetar, menyedihkan.

Wanita dengan keriput lembut di wajah itu, terdiam tak menjawab.

“Widi ada di kamar lain, kak…, kondisinya parah tapi sekarang sudah baik….”, jawab seorang anak remaja yang berdiri di belakang sang Ibu.

“Syukurlah…”

Sang Ibu menatap remaja itu dengan mata penuh pengertian dan ucapan terima kasih yang tertahan.

Terkadang kita memang harus berbohong, anakku….

“Jo…”

“Iya, kak…”

“Kakak mau minta tolong…tolong kamu belikan tiket kereta Pramek ya?”

Ibu dan anak saling bertatap mata dengan bingung, “Pramek kak? Kereta jurusan ke Jogja itu ya? Untuk apa? Kakak kan sakit, mana boleh pergi ke Jogja?”

Bibir Sekar bergerak mengarah senyum, “Siapa bilang kakak mau ke Jogja? Kakak cuma perlu tiket itu. Mau kan Jo?”

“Baiklah, kak…”, kata Jo, walaupun dia ragu-ragu mendengar permintaan aneh itu. Ada apa dengan Kakak? Apa benturan itu masih meninggalkan trauma di kepalanya? Apa dia sudah berubah ingatan?

Takut dengan pemikiran ini, Jo menancap gas sepeda motornya. Dia menangis. Tuhan, lindungi kak Sekar.

Sesaat kemudian,

“Terima kasih ya, Jo…” sambut Sekar begitu Jo kembali dari Stasiun.

Jo menyerahkan tiket kereta itu ke tangan Sekar.

Entah apa yang berkecamuk di kepala Sekar, wajah cerahnya ketika melihat Jo membawa tiket seketika berubah begitu dia memandang tiket itu.

“27?! …kenapa di sini tertulis tanggal 27?!”

20-08-2002. Pukul 20.19,

Kafe kecil di sudut kota

Itu mereka. Pasangan itu. Seperti yang aku duga, mereka masih bersama. Coba aku ingat-ingat, malam itu tepat 2 tahun yang lalu. malam dimana mereka saling menyatakan cinta.

“Aku punya sesuatu untukmu”, kata Widi.

Sekar tersenyum, “O ya? Tumben. Tahun lalu kamu bilang, kalau kamu tidak mau memberi aku hadiah karena tidak ada barang semahal apapun di dunia ini yang bisa mewakili perasaanmu padaku…”

“Itu pasti!”, sahut Widi, “Tapi yang ini lain. Kado ini sama sekali tidak mahal, tapi sangat berharga bagi kita…”

“Tidak mahal….tapi berharga…”

“Aku suka itu!”

Kemudian, Widi mengeluarkan sebuah buku kecil. Sebuah album kecil tepatnya, yang didalamnya hanya terisi 2 buah tiket kereta Pramek rute Solo-Jogja.

“Tidak mahal…aku bisa lihat itu, tapi berharga?” kata Sekar bingung.

“Coba lihat tanggal tiketnya”, Sekar memandang kedua tiket itu. Dan ternyata keduanya memiliki tanggal yang sama, 20 Agustus. Tiket pertama tahun 2001, yang kedua tertulis 2002. Tepat hari ini.

“Tiket yang ini adalah tiket punyamu waktu kamu naik Pramek ke Jogja. Ingat kan? Kita rayakan first aniversary kita di Jogja…”

“Kamu simpan tiket setahun yang lalu? Hanya untuk tujuan ini?”

“…begitulah….”

“Bagiku, tiket ini menandakan perjalanan cinta kita. Mewakili setiap peristiwa yang kita lalui bersama. Sepanjang tahun banyak sudah yang kita alami bukan?”, Sekar mengangguk.

“Susah, senang, belum lagi kalau kita sedang bertengkar. Tapi selama ini semuanya dapat kita selesaikan dengan baik. Dan tiket ini adalah semacam tanda penghargaan bagi kita. Sebuah simbol dari cinta kita yang masih bertahan”

“Aku mengerti. Semoga kita dapat memenuhi album ini dengan tiket bertanggal 20 Agustus…sebanyak mungkin…”, kebahagiaanpun mengalir di pipi Sekar. Masuk ke sla bibirnya. Terasa manis.

Dan, untuk kedua kalinya aku saksikan mereka merayakan cinta.

20-08-2009. Pukul 11.48,

Tempat Pemakaman Umum

Gadis itu tetaplah Sekar yang dulu. Masih dengan kecantikan yang sama. Bersimpuh di depan sebuah nisan sederhana. Sendirian.

Di tangannya terlihat sebuah album kecil. Album yang berisi delapan tiket bertanggal 20 Agustus, dan sebuah tiket “istimewa” bertanggal 27 Agustus…

“Wid…”, suara itu nyaris tak terdengar.

“Tiket ini adalah tiket kita yang ke sembilan…nggak terasa ya?”, lembut tangan Sekar mengelus nisan.

Waktu berhembus dingin, membekukan rerumputan yang seketika berhenti bergoyang.

Perlahan, Sekar memasukkan album mereka ke dalam saku jaket. Dan dengan pelan dia mulai beranjak, melangkah tertatih dibantu sepasang tongkat logam sebagai ganti kaki kirinya yang hilang.

Sekar, seorang gadis cantik. Hanya itu kata yang tepat untuknya. Cantik. Meskipun saat ini dia telah cacat.

Dia tetap cantik…

9 Komentar to “Sekar dan Sembilan Lembar Tiket”

  1. Wuih…. Sekar sopo ki bro…

  2. ini fiksi apa beneran? seru banget😀

  3. ada filmya nggak hehehheheeee . . . 😀

  4. wahh… meskipun cuman cuplikan cerita, tp seru bgt gan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: