Dongeng dalam Hiasan Dinding

Tidak semua harus diucapkan. Terkadang yang dibutuhkan untuk menyampaikan sesuatu hanyalah sebuah isyarat. Bahkan sebuah benda pun mampu memberikan kepada kita gambaran dan pengertian yang lebih dari ribuan kata yang terlontar.

Hiasan itu terpasang rapi di dinding rumah masa kecilku. Aku tidak ingat kapan ayah memasangnya di sana. Sepanjang yang aku ingat benda itu sudah berada di sana dan setiap hari selalu menarik perhatian mataku, sampai kata per kata yang terukir di sana terpatri dalam benakku. Sederet kata yang merupakan nasihat dari ayah kepadaku tanpa ada kalimat yang terucapkan dari mulut beliau.

***

Wanita itu luar biasa cantik mulus. Kedua matanya menatapku dengan sinar yang tajam menantang, bulu mata lentik menjulang dengan ujung sedikit bergetar ketika kelopaknya mengejap. Sepasang alis bertengger manis di atasnya, membuat mata itu menjadi sempurna.

Aku alihkan perhatianku sedikit ke bawah. Tatapanku berhenti di sebuah hidung mungil dengan cuping tipis kembang kempis seiring nafas yang sedikit terengah.

Dan mulut itu…mungkin mulut itulah bagian yang paling sempurna dari wajah sang wanita di depanku ini. Sepasang bibir merah setengah terbuka menghembuskan nafas hangat menyapu wajahku. Ujung lidahnya terlihat sedikit dari balik bibir, tergetar seperti malu kala tahu bahwa aku tak mampu mengalihkan mataku dari ujung lidah merah itu. Panas!

Sedetik kemudian aku tak mampu lagi melihat bibir itu, hidung itu, dan mata itu karena mataku terpejam tanpa dapat aku cegah ketika dia menciumku. Mencium dengan penuh gairah.

Aku merasa ada sesuatu yang terbakar dalam tubuhku, karena tubuhku terasa hangat. Dan kehangatan itu berubah panas tak tertahan ketika tangannya melingkari leherku dan menjambak lembut rambut di tengkukku.

Saat itu aku berada di tepi sebuah jurang yang mampu menghempaskan kebahagiaan keluargaku. Tetapi….

terdengar rintih sumbang isteriku saat melahirkan anakku,

terbayang puting susu lecetnya saat menyusui anakku,

terasa tawa bahagia kami kala mendengar tangis merdu anakku,

terasa cinta murni isteriku untukku

Kenangan dan bayangan silih berganti menghampiri hingga akhirnya terlihat almarhum ayah mengucapkan kalimat dalam hiasan dinding itu. Suaranya tenang dan kata per kata terdengar jelas di hati.

“Maaf, mbak, kita tidak seharusnya melakukan ini. Aku adalah seorang suami dan seorang ayah yang sangat mencintai isteri dan anakku. Sekali lagi maaf tapi aku harus pulang, keluargaku menunggu di rumah”, aku dorong pundak wanita itu menjauh dari tubuhku dan terasa rasa panas itu berangsur pergi.

***

Hanya sebuah hiasan dinding di rumah masa kecilku….tapi benda sederhana itu telah menyelamatkan kebahagiaan sebuah keluarga. Kalimat yang terukir di sana telah membentuk aku menjadi pribadi yang lebih baik. Jauh lebih berguna dari ribuan nasihat yang memasuki lubang telingaku yang bebal ini.

Dan ayah, perlu kau ketahui hiasan itu sekarang telah menempel di dinding rumahku. Menempati tempat terhormat di sana. Dan pesan itu akan aku teruskan kepada cucumu, tanpa sedikit pun kata yang perlu aku ucapkan. Biarlah dia membacanya sendiri dan mengerti bahwa hiasan dinding itu menyimpan sebuah dongeng bijaksana dari almarhum kakeknya.

19 Komentar to “Dongeng dalam Hiasan Dinding”

  1. Tidak hanya indah bentuknya mas, tapi isinya juga mantap sekali.

    bukan sekedar kenangan tentunya, tapi membacanya setiap melihat itu di dinding selalu mengingatkan dan memotivasi….luar biasa mas dalam menjaga keutuhan hiasan itu

  2. HAH !!!
    Aji’s Words is Back !!!
    Selalu striking …
    Selalu Stunning …

    (mbuh opo artine …)

    Yang jelas … Gua Jatuh Cinta Berat ama tulisanmu Ji …

    Salam saya …

  3. (maaf) izin mengamankan KETIGA dulu. Boleh kan?!
    Kesetiaan salah satu yang bisa kita banggakan

  4. Nggak kuku dengan lecetnya itu Mas 😛

  5. cara kembali yang indah dan unik

  6. Akhirnya bisa juga BW nih…
    dah lama banget ga berkunjung n mapir ke rumah saudara2 nih…

    ternyata lama ga berkunjung, aku ketinggalan nih sama kalian…
    maklum gi banyak banget kerjaan n kesibukan, jadinya jarang banget deh mw BW..

    sekarang sih dah bisa BWan tiap hari, sekaligus nyambung silaturahmi lagi nih, dah lama ga ngobrol n nyoret2 di blog orang, kangen banget rasanya hehehe…

    nyambung tali silaturahmi sekalian promo usaha baru nih…
    yah usaha kecil2an sih, cuma bisa mendapatkan keutungan yg lumayan besar juga sih ;))

    salam kenal

    bisnis oriflame online

  7. blue merindukan sapa darimu om
    p cabar
    tetap bersemangat y

  8. saya tertarik dengan tulisan yg ada pada gambar itu mas, heheheh sekarang ini sangat sulit ternyata mencari kesetiaan pada diri seseorang termasuk diri sendiri.

  9. Hiasan itu seperti hiasan acara nikahan tempo dulu ya, Mas🙂

  10. jgn donk, ntar dindingnya kotor..hehehehe

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: