Menjijikkan!!!

Remang!

Seruan kemresek radio usang di kamar pengap ini membuat dadaku bertambah sesak. Aroma kain jemuran yang tak kunjung kering semakin menguat, menumpuk di pojokan menguapkan bau yang terasa berat di udara. Seakan berujud, berwarna, nyata.

“Radio itu kan sudah rusak, suaranya nggak jelas. Kenapa nggak dimatikan saja?”, teriakku sia-sia, karena penghuni kamar ini takkan mampu mendengar yang kuucapkan dan aku tahu itu.

Penghuni kamar ini sedang asik mematut diri di depan cermin buram. Rambut merah bercabang melayang kaku dari kulit kepala berkoreng. Menjijikkan!

Kosmetik murahan menyapu kulit keriput di bawah sepasang mata yang bersinar sayu. Menceritakan berjuta kisah, dan tak ada satupun yang bahagia. Mengibakan!

Dia duduk di atas kursi plastik berdecit, sambil memijit betisnya yang terasa ngilu. Seharian dia mengayuh becaknya, tapi setoran masih saja kurang. Terpaksa malam ini dia harus ‘lupa’ dengan harga diri.

Terngiang jeritan putrinya ketika berkata, “Pak, buku tulis saya sudah habis…butuh yang baru…”

Terasa perih di hatinya ketika sang isteri tersenyum pilu dan berkata, “Saya sudah makan kok…bapak makan aja…”

Dia memang bodoh mengambil jalan yang sedemikian memalukan, tapi apa hakku mencela dia? Aku tak sanggup menolong, aku hanya bisa memandang dan tertawa jijik melihat dia mengobral oral dan anal.

Siapa yang lebih biadab? Dia yang berbuat hal yang demikian menjijikkan? Atau aku yang hanya mencela tanpa mampu meringankan bebannya? Aku hanya mampu berkata “kan bisa cari pekerjaan lain…” tapi aku tak pernah mampu mengerti apa yang sebenarnya dia rasakan dan alami, mungkin dia pernah mencoba untuk berbuat sesuatu tapi hanya ini jalan yang bisa dia lakukan agar anak perempuannya bisa mendapat buku, agar isteri tercintanya bisa ikut makan bersama keluarga. Siapa yang tahu? Aku tak tahu, karena yang aku tahu hanya mencela, yang aku bisa hanya tertawa dan berkata menjijikkan!

Perlahan dia mulai berjingkat melewati isteri dan anak yang tidur saling berdekatan, mencoba mengusir dingin.

Jangan sampai mereka tahu, bisiknya tatkala menutup pintu dengan lembut.

“Mak…???” suara bergetar anak perempuan itu terhenti oleh bekapan lembut tangan  Ibu.

“Diamlah, nak…! Satu yang perlu kau tahu. Bapakmu cinta sama kamu…”

Ternyata wanita ini tahu apa yang dilakukan suaminya dan dia tidak melarang. Menjijikkan!!!

Tapi sebenarnya, dia pingin melarang. Dia tidak mau suaminya menjadi waria tukang sedot ‘burung’ orang. Dia benci…tapi perut mereka butuh diisi, tapi rumah kontrakan mereka sudah menunggak 2 bulan, tapi tidak ada alasan yang cukup kuat baginya untuk berkata, “Suamiku…jangan bekerja seperti itu lagi. Kita terima saja penghasilan yang kita dapat dari hasil narik becak….”

Menjijikkan!!!! Teriakku, dan dengan marah aku keluar dari ruangan itu. Aku tidak betah lagi berlama-lama melihat kenyataan ini. Begitu mengerikan, menyedihkan, dan …menjijikkan.

Aku melihat kenyataan seperti ini dan aku hanya diam saja? Bahkan mencela…, ternyata aku juga menjijikkan. Lebih menjijikkan dari jijik terjijik di muka bumi ini!!!

Dari kejauhan terdengar suara kentongan sayup-sayup…

Dengan sisa air mata di pipi, aku rengut kain sarung di atas kursi. Malam ini jatahku ronda.

61 Responses to “Menjijikkan!!!”

  1. Realitas kehidupan nyata di dunia ini,
    Tak tunggu karya2mu yg lain,teruslah menulis semangat !!!!!!!!!!!!

  2. realita yang menjadi dilema di masyrakat ya. Kita hanya bisa menghakimi tanpa memberikan solusi yang layak untuk dijalani.

    • begitulah. seringkali kita menghakimi orang dengan standar kita, dengan fakta yang kita tahu. sementara fakta yang mereka alami mungkin sama sekali jauh dari bayangan kita.

  3. masih ada juga ronda n radio usangnya…
    hihi…. inget wektu di kampoong..
    tapi gak ronda…
    cuman inget radio usangku..
    kemana skrg yaa??

  4. berangkat ronda segera, jangan ketinggalan teman-teman

  5. kasihan sekali anak-anak dan istri mereka-mereka yang berpenghidupan dan bergaya seperti itu😦

    • benar pak. kasihan sekali…
      tapi mau gimana lagi? kadang saya marah dengan diri sendiri karena nggak punya kemampuan untuk menolong saudara2 yang seperti ini. hope the best aja..🙂

  6. Manteps euyyyy

  7. mas, karyanya luar biasa, aku seperti membaca salah satu karya Djenar Maesa Ayu….ditunggu cerita2 selanjutnya yah….

  8. beeeeehhhh terjadi perubahan fungsi kepala keluarga neh

  9. Berkunjung . . .! Baca-baca tulisan bagus!
    Salam …!

  10. para kalangan atas yg hobinya menyedot burung uang rakyat tingkah dan gayanya jauh lebih njijiki mas

  11. jadi jijayyy maho maho gan !!

  12. salam kenal , Ma s
    terima kasih sudah menyempatkan berkunjung ke blog saya.
    ================
    saya lebih jijik menyaksikan dan tak sanggup berbuat apa2,
    melihat mereka yg menikmati uang rakyat dgn tanpa merasa bersalah,
    malahan bangga.
    salam.

  13. Keren ceritanya. Lugas, nggak bertele2!

    Mau lagi…

  14. Hmmm… selalu penuh kejutan…🙂

    • kejutan yang menyenangkan kan?

      • Selamat Idul Adha 1430 H… Sekalian titip salam tuk Tesha n mamanya ya…🙂
        Trus, saya masih bingung sama tulisan di atas… Siapakah tokoh aku??

        • eh? ada2 aja pertanyaannya.🙂
          si aku itu simbol dari sebagian besar dari kita yang seringkali hanya mencela tanpa mau melihat lebih jauh tentang apa, bagaimana dan mengapa mereka melakukan itu. hanya mencela dan menghakimi tanpa solusi. si aku saya ceritakan dari sisi saya sendiri. intinya sih untuk menyindir dan menegur supaya kita sadar🙂

  15. Salam Takzim
    Habis lihat-lihat izin mao
    ngucapin
    SELAMAT HARI RAYA IDUL ADHA 1430H
    Semoga pengorbanannya keterima
    Amin
    Salam Takzim Batavusqu

  16. menyapa sahabat, blog walking semoga selalu bahagia dan sukses selalu

  17. Met Idul Adha yaaa😀 Yang rencana naik Haji, semoga terkabul di lain kesempatan. Banyak do’a, banyak berkah!

  18. Salam Takzim
    Setelah mendengar butiran-butiran hikmah Idul Adha di masjid dan di tanah lapang, mari kita aplikasikan hikmah semangat berqurban kepada sesama dan kerja keras sekeras ibunda Hajar dalam mendapatkan setetes air cinta untuk Nabi Allah Ismail.
    Salam Takzim Batavusqu

  19. selamat Hari raya iedul Qurban…semoga memperkuat semangat persaudaraan dg hari kurban ini…

  20. ini cerita ngambil dari mana?

  21. Kalaulah Ada Sumur di Sana, Bolehlah kita Mencuci Muka
    Kalaulah Ada Sate Kambing tersisa, bolehlah kirim buat saya

    Selamat Hari Raya Idul Idha 1430 H dan Selamat Berliburan panjang, Semoga Selalu Bahagia dan Senantiasa diberikan limpahan rejeki dari Yang Maha Kuasa

    Salam Mesra

    Ruang-Hati

  22. Good story, mas…

    Menurut Meli nih…yang menjijikkan adalah ketika kita dalam keterpurukan tapi kita tetap bermalas2an untuk bangkit dari keterpurukan itu.

    Met Idul Kurban,mas….

  23. Mengharukan bgt ceritanya…

  24. kita cuma bisa mencela tanpa bisa memberikan jalan keluar… mungkinkah kita sudah kehilangan semangat persaudaraan sesama manusia?

  25. Mas Aji …
    Jujur Mas …
    Saya baca dua kali …
    Rangkaian kata-kata mas aji keren sekali …
    begitu khas …
    begitu tajam …

    Ini tulisan yang bagus masa …
    Itu tulisan bagus sangat …

    Salam saya

  26. Waduh komentar apa ya … he he he mantap!

  27. salam pagiii met pagiii🙂
    gaswaatt deh om ini kalau udah mau ngeronda….ahahay^^
    emang poenya om aji banget…
    ekspresi ini beneran pas mau ngeronda om?
    atau cuma sekedar kiasan gituuh,,biar tamabah seru dan menarik ceritanya
    smile^^

  28. Mas terus terang aku baca blogmu, setelah masuk artikel boysnya om nh…dan terus terang aku pengen bisa nulis dengan gaya bahasa kaya gini….hiks…ajari aku….

    • waduh saya juga gak tahu cara ngajarinya gimana😀
      mungkin sekedar share aja, tulis apa yang ingin kamu tulis nggak usah terlalu dipikirkan apa jadiya tulisan itu nanti dan jangan terpancang pada bahasa. asal tulis aja. hajarrr!!! heheheee…

Trackbacks

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: