Mencari Kebahagiaan

Saya yakin tidak ada manusia yang berangan-angan untuk hidup tidak bahagia. Semuanya pasti mengharapkan kebahagiaan menyelimuti kehidupannya. Dan untuk mendapatkan kebahagiaan ini, kita seringkali rela berbuat apapun.

Sebenarnya apa sih kebahagiaan itu? Dan bagaimana kita bisa mendapatkannya?  Uang? Isteri cantik? Anak yang patuh? Agama? Entahlah…

Saya juga tidak tahu pasti bagaimana caranya agar kebahagiaan menghampiri kita, karena seringkali saya masih berada dalam keadaan mencari kebahagiaan. Tapi mungkin sedikit dongeng dari almarhum ayah ini dapat membantu kita lebih mengenal kebahagiaan.

Seorang petani tua berjalan pelan melewati rombongan keluarga Pangeran yang sedang beristirahat.

Dari dalam kereta Sang Pangeran mengamati kakek petani itu. Tubuh hitam kurus, hanya memakai celana hitam selutut yang sudah usang.

“Kasihan, setua itu masih harus pergi ke sawah…”, tapi kata-katanya terhenti ketika dia melihat raut wajah sang kakek. Begitu sumringah!

Didorong oleh rasa keingintahuannya, sang pangeran turun dari dalam kereta dan mengajak sang petani tua untuk ngobrol.

“Kenapa kakek masih menggarap sawah sendiri? Bukankah seusia kakek ini seharusnya istirahat di rumah dan menyerahkan urusan sawah kepada anak atau cucu kakek barangkali…”

“Ya kalau tidak pergi ke sawah, saya tidak bisa makan, tuan. Anak saya yang laki-laki merantau ke kota, jarang pulang. Di rumah cuma ada isteri saya sama anak bungsu saya, tapi dia cacat. Tidak bisa mencangkul sawah”

“Sawah kakek luas? Kalau digarap sendiri apa tidak kerepotan, kek?”

“Hahaha…saya tidak punya sawah, tuan. Saya ini cuma bantu nggarap sawahnya pak lurah. Wah, orang seperti saya mana bisa beli tanah? Tuan ini ada-ada saja”

Pangeran bertambah keheranannya. Seorang renta yang harus menjadi buruh cangkul, dengan seorang isteri dan seorang anak cacat. Kenapa wajahnya bisa sebahagia itu? Tidak nampak sedikitpun kesedihan di matanya.

“Apa penghasilan kakek bisa mencukupi kebutuhan keluarga kakek?”

“Dibilang cukup ya cukup. walaupun kadang makan cuma sehari sekali. Tapi ya mau gimana lagi? Adanya kan cuma itu, ya harus dicukup-cukupkan”, jawabnya sambil tersenyum lebar.

“Maaf, tuan. Saya mau pamit, saya mau ke sawah dulu. Keburu siang…”

“Satu pertanyaan lagi, kek. Apakah kakek bahagia?”

“Bahagia?” kakek renta termenung sejenak.

“Saya nggak tahu tuan. Tapi saya rasa saya nggak butuh bahagia itu. Hidup saya sudah cukup senang. Masih bisa makan setiap hari, masih bisa mencangkul sawah, isteri dan anak yang walaupun sering bikin marah tapi perhatian sama saya. Itu sudah cukup bagi saya tuan, nggak usah ditambahi yang lain lagi. Permisi tuan…” dan kakek itu berlalu dengan langkahnya yang pelan tapi pasti.

“Dia adalah seorang yang bahagia…” gumam sang Pangeran.

Kebahagiaan tidak dapat dicari karena kebahagiaan sebenarnya sudah ada pada kita. Hanya terkadang kita masih belum mau menerima kebahagiaan itu dan mencari lagi kebahagiaan lain yang lebih…

Seperti sang Pangeran dalam dongeng di atas. Apa yang tidak dia punya? Uang berlebih, mau apa tinggal minta, isteri juga pasti banyak dan cantik pula. Tapi dia iri melihat kehidupan seorang kakek buruh cangkul yang hidup dalam kesederhanaan bahkan kekurangan.

Itulah perbedaan pangeran dan kakek petani. Pangeran terus mengejar kebahagiaan yang lebih, tapi sang kakek bahkan bilang kalau dia tidak butuh kebahagiaan karena dia sudah cukup puas dan senang dengan apa yang dimilikinya sekarang.

Sebuah dongeng yang indah…🙂

103 Komentar to “Mencari Kebahagiaan”

  1. mencari Kebagahagiaan?
    Bagahagiaku untukmu…

  2. setuju sekali bro🙂
    kebahagiaan itu adalah suatu keputusan🙂
    state of mind🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: