tentang Wisnu (petikan dari novel g*g*l lagi)

Bising…itulah kata-kata yang tepat untuk menggambarkan kantin sekolahku di saat jam istirahat. Gelegak tawa, teriakan-teriakan saling ejek antar teman, gurauan berbau sex, obrolan tentang lawan jenis, jerit para siswi tatkala digoda oleh para siswa, keras, melengking, memecahkan gendang telinga. Beberapa pasang muda-mudi yang sedang dimabuk asmara terlihat menyepi di pojok-pojok kantn, mencoba untuk menjauhi gangguan.

Di kantin Anggi menghampiri Wisnu teman sekelas kami. Dia duduk sendirian di meja sudut, bukannya kami akrab tapi karena hanya meja dia aja yang masih kosong. Wisnu memang orang yang nggak suka bergaul, sama sekali nggak punya teman. Wisnu terkenal sebagai anak pembuat onar. Preman sekolah, anak-anak yang lain tidak ada yang berteman dengannya. Bukan karena tidak mau tetapi karena Wisnu sendiri yang tidak mau berteman, dia tipe orang yang super penyendiri.

Kami sama sekali tidak tahu apapun mengenai dia selain bahwa dia adalah anak yang bermasalah, kunjungan ke ruang Kepala Sekolah sudah menjadi rutinitas mingguannya. Aku sendiri heran kenapa sampai saat ini dia tidak dikeluarkan saja dari sekolah. Sebenarnya banyak cewek yang suka sama dia, tapi karena orangnya cuek habis (kalo menurutku sih, sok cuek, sok cool), makanya sampe sekarang nggak pernah ada yang bisa deket sama dia.

Pernah si Winda, ketua kelas 3 IPA1, saking tergila-gilanya dia sampai-sampai rela diskors satu minggu nggak boleh ikut pelajaran dan harus membantu Pak Joyo ngebersihan toilet cewek lantaran menghasut temen satu kelas untuk bolos dan nyanyi koor sama-sama di lapangan basket –kabarnya Winda harus menguras tabungan hari tuanya untuk nraktir ke-43 temannya makan-makan sekali seminggu dalam sebulan, dengan perjanjian sukses gak sukses yang penting makan–, kelompok paduan suara amatiran itu nyanyiin lagu……gak tahu judulnya, pokoknya yang kata-katanya pake “i love you baby!” gitu, hanya saja kata-kata baby diganti dengan Wisnu.

Winda yang saat itu dipenuhi dengan aura cinta berdiri di depan kelompok paduan suara dadakannya –yang dengan begitu ahlinya berhasil mengkomposisi ulang lagu itu, dari indah menjadi musibah… –, mencoba mati-matian untuk bergoyang elegan mengikuti irama…norak memang. Tapi itulah faktanya, cinta membuat orang jadi norak!

Tapi perjuangan hingga tetes aib terakhir bagi Winda itu sama sekali tidak menghasilkan ending yang diharapkan. Reaksi yang ditampilkan oleh Wisnu benar-benar membuat hati Winda hancur berantakan. Dengan santai Wisnu hanya ngelirik dan ngeloyor pergi, seperti nggak ada kejadian apa-apa, padahal satu sekolah menyempatkan diri menyaksikan perjuangan Winda. Jelas saja si Winda malu bukan kepalang.

Gimana nggak malu? Kejadian itu bahkan dicatat sebagai peristiwa paling bersejarah dalam agenda sekolah. Upacara bendera? Disinggung… Jam pelajaran? Dibahas…

Kasihan deh si Winda…

Pokoknya kalo dalam cerita fiksi, cueknya si Wisnu ini sama kaya Rangga –tahu kan? Itu, yang di film AADC– bahkan lebih parah! Masih mending si Rangga, diam-diam punya bakat Sastra. Wisnu? Bisanya cuma cari masalah aja.

cerita sebelumnya :

3 Komentar to “tentang Wisnu (petikan dari novel g*g*l lagi)”

  1. ya ampun, si wisnu jutek amat yak? hahaha.. kalo gw sih ada gituan manggil satpam:mrgreen:

  2. segitunya yah si winda…seandainya aku yang jatuh cinta kepada si wisnu maka…..dalam hati saja

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: