write and share : petikan dari novel gagal

Wisnu tertidur di sampingku. Bugil. Sama sepertiku.

Sedikit rasa penyesalan menyusup ke hatiku atas apa yang telah aku, kami lakukan. Tentu saja aku tahu kalau apa yang telah terjadi barusan seharusnya tidak kami lakukan. Berbagai bayangan menghantuiku. Bagaimana seandainya ayahku tahu?

Dari apa yang aku dengar, perempuan yang sudah tidak perawan akan mengalami perubahan secara fisik. Bagaimana kalau pantatku melorot turun dan mereka tahu? Atau caraku berjalan berubah? Atau perubahan apapun yang dapat mereka lihat? Dan parahnya lagi, bagaimana kalau seandainya aku hamil??!

Terlihat Wisnu menggeliat kecil dan wajahnya sekarang menengok ke arahku sehingga aku dapat melihat dengan jelas setiap lekuknya, bahkan aku dapat melihat bulu-bulu halus yang mulai tumbuh di bawah hidungnya. Wajahnya terlihat sangat tenang. Sialan! Bagaimana dia bisa tidur senyenyak itu sementara aku untuk memejamkan mata saja aku takut!

Tapi kenapa harus takut..? Lagipula kenapa aku harus menyesali kejadian barusan? Bukankah aku melakukannya dengan Wisnu? Orang yang aku cintai? Orang yang aku sayangi dan menyayangi? Aku rela kok!

Semuanya terjadi secara alami tanpa ada rencana, mengalir seperti air sungai menuju ke lautan. Tidak perduli apapun yang menghalangi pada akhirnya akan tetap sampai di laut. Di tempat dimana mereka seharusnya berada. Aku gak perlu menyesalinya, semuanya memang harus terjadi. Lagipula aku menikmatinya kok –walaupun awalnya sedikit sakit dan aneh, tapi aku menyukainya.

Aku amati lagi wajah lelaki yang berhasil merebut hatiku sehingga dari sekian banyak pacar yang pernah kumiliki, dialah yang menjadi the one…..and only –semoga saja.

Wajah yang cukup tampan walaupun sedikit kurus. Bibir yang berwarna gelap karena kebiasaannya merokok. Pipi yang tidak sehalus para pria pesolek yang frekuensi kunjungan ke salonnya bahkan melebihi tante-tante girang. Tidak! Wisnu sama sekali bukan pesolek. Jauh dari itu, dia bahkan cenderung tipe orang yang sama sekali tidak pernah perduli dengan penampilannya. Rambut awut-awutan, bekas jerawat, ada sedikit bekas luka di dahinya. Tipis, hampir tidak terlihat, memanjang dari tengah dahi hingga ke alis sebelah kiri. Wajah yang cuek tapi simpatik. Itulah penilaianku.

Terlihat bibir Wisnu membayangkan senyum dalam tidurnya. Dia pasti mimpiin aku. Mimpi tentang apa yang kami lakukan tadi. Setelah ditinggal oleh penjaga villa yang menawari kami kamar tadi, praktis kami hanya berdua saja di kamar itu.

Kamar yang cukup nyaman, dengan sebuah tempat tidur berukuran sedang di salah satu sudutnya berhiaskan sprei merah muda dengan motif bunga yang terlihat baru. Sebuah sofa berada di sudut yang lain menghadap ke jendela yang ditutup dengan gorden merah. Sebuah meja dimana TV berukuran 21“ bertengger dengan tenang terletak di samping sofa, miring menghadap ke tengah ruangan sehingga bisa dilihat dari sofa maupun dari tempat tidur. tata ruang yang dapat memaksimalkan keminimalisan.

Wisnu mencoba untuk menghidupkan TV dengan memencet remote yang terletak di samping sofa. Muncul tampilan gambar yang walaupun sedikit kabur tetapi masih bisa ditonton. Acara kuis. Stasiun-stasiun TV kita memang dipenuhi acara-acara kuis –memuakkan. Aku kurang begitu suka acara kuis yang menurutku mengandung unsur judi. Kalau memang mau bagi uang kenapa harus pake kuis? Kan tidak tepat sasaran, seringkali tidak jatuh ke tangan orang yang tepat. Dari kuis yang pernah kalian lihat. Berapa persen perserta kuis yang memenangkan uang datang dari kalangan yang membutuhkan atau sangat membutuhkan? Sedikit %. Sebuah acara yang aneh, tapi konsep membuang uang untuk mendapatkan uang ini menurutku memang jenius.

Tiba-tiba aku dikagetkan dengan suara ketukan pada pintu kamar. Wisnu membuka pintu, dan di depan pintu penjaga villa tadi berdiri sambil memegang sebuah nampan dengan dua gelas di atasnya yang sepertinya sih berisi kopi hangat.

“Ini minumnya, mas.” Katanya sambil melangkah masuk ke dalam kamar sebelum kami persilahkan dan meletakkan nampan itu dia atas meja. Sebelum dia keluar dia memberikan dua buah baju yang mirip kimono. Jubah lebar yang cara memakainya hanya ditangkupkan ke tubuh seperti jaket kemudian di bagian pinggangnya diikat dengan sehelai tali, membayangkan memakainya di depan Wisnu saja sudah membuatku malu. Bagaimana kalau ikatannya lepas dan tubuh bagian depanku terlihat oleh Wisnu? Atau bagaimana kalau yang terbuka kimononya Wisnu?

Selama ini aku belum pernah melihat langsung –bagaimana menyebutnya? penis?– Jangankan mengucapkan, mendengarkan dalam pikiran saja kata itu terdengar sangat aneh dan membikin risih. Aku belum pernah melihat itu secara langsung dan nyata. Tentu saja aku pernah melihat gambar-gambar anatomi tubuh –aku kan anak dokter–, bahkan di rumah Papa-ku punya semacam patung yang dengan jelas memperlihatkan urat-urat tubuh manusia, termasuk bagian itu. Tapi tanpa kulit, jadinya malah menakutkan.

Pengetahuanku secara visual tentang alat kelamin pria itu sebagian besar aku dapatkan dari film-film porno. Bukannya aku maniak pornografi atau kolektor film porno. Tetapi aku punya sahabat yang dalam hal-hal seperti itu jauh lebih berpengalaman. Dia punya beberapa buah film dewasa dan terkadang kami melihatnya bareng-bareng. Itupun cuma buat selingan aja, lebih banyak bercandanya daripada nonton filmnya.

Selain dua kimono itu, dia juga memberikan handuk, sabun mandi dan shampo yang semuanya dihiasi dengan logo dan nama villa tersebut.

Di luar hujan masih turun dengan deras.

Aku pura-pura tidak melihat dan mendengar ketika penjaga villa itu keluar sambil menjelaskan kalau mau mandi air hangatnya sudah bisa dipakai. Tinggal menghidupkan kran airnya saja.

Wisnu mendekat dan duduk di sampingku menghadap ke TV yang menampilkan wajah peserta kuis yang terlihat sangat tegang –kami punya persamaan dalam hal itu– menunggu klarifikasi kebenaran jawaban yang dia berikan. “Kamu gak mandi?” Wisnu menyentuh rambutku yang masih basah dan mulai terasa lengket-lengket.

Sentuhan, kecupan kecil, bahkan ciuman bibir sudah sering kami lakukan. Tapi entah kenapa belaian Wisnu di rambutku kali itu membuat seluruh tubuhku bergetar. Merinding. Kalau aku ini landak pasti bulu-bulu tubuhku sudah berdiri tegak dan melukai tangan Wisnu.

“Kamu aja dulu…”

Kurangajar! Kenapa suaraku jadi serak-serak bergetar seperti ini? Memalukan!

Tenang tenang tenang… Ambil nafas…..hembuskan, ambil nafas…..hembuskan.

Sambil tersenyum Wisnu bilang kalau sebaiknya aku dulu yang mandi. “Gak usah malu daripada sakit lho…” “Siapa yang malu? Ge-Er!” aku berdiri dan dengan sedikit kasar menerima handuk dan kimono tadi dari tangan Wisnu.

Ambil nafas…..hembuskan, ambil nafas…..hembuskan.

Segera tubuhku yang sudah hampir membeku itu aku biarkan terguyur air hangat dari shower di atasku. Memang tubuhku jadi terasa jauh lebih enak setelah seluruh tubuhku diguyur air hangat. Aku menunduk di bawah shower membiarkan air hangat mengguyur kepalaku dan turun mengalir melewati wajah dan tubuh sampai akhirnya masuk ke lubang pembuangan. Seminggu lagi mereka pasti sudah tiba di laut.

Sudah 30 menit aku berada di bawah shower, sampai ujung-ujung jariku berubah menjadi pucat dan mengkerut. Bukan berarti kebiasaan mandiku penuh dengan ritual yang panjang dan bertele-tele, tetapi hanya karena aku belum punya keberanian untuk muncul di depan Wisnu dengan –hanya– memakai kimono itu. Kimono yang bahannya juga sangat tipis. Semua bajuku dari jaket, kaos, celana, underwear, semuanya basah kuyup dan gak mungkin aku pakai itu lagi.

Wisnu sudah mulai tidak sabar dan memanggil dari luar kamar, “Ayo cepetan! Gantian! Aku udah kedinginan! Gak betah!” sambil menggedor pintu kamar mandi dia berteriak-teriak.

Perlahan kran air aku matikan dan dengan handuk lebar yang warnanya sudah pudar aku keringkan tubuhku. Sampai akhirnya tiba saat kimono itu aku pakai. Dengan segala cara aku berusaha untuk memakai kimono itu dengan alternatif yang terbaik untuk menutupi tubuhku semaksimal mungkin. Tapi tetap saja namanya kimono cara memakainya ya hanya seperti itu.

Ambil nafas…..hembuskan, ambil nafas…..hembuskan.

Perlahan aku buka pintu seng yang membatasi dunia kami. Wisnu sudah berdiri di depan pintu ketika akhirnya aku keluar sambil menenteng pakaian basah yang kemudian aku gantung di tempat handuk supaya kering. Tanpa menanggapi komentarnya tentang betapa lamanya aku di kamar mandi, aku langsung menerobos keluar dan sebisa mungkin mengindari kontak mata dengannya.

Aku tersenyum sendiri membayangkan betapa malunya aku sore tadi. Padahal sekarang ini –kira-kira tiga jam kemudian– kami berdua tidur bersebelahan tanpa kimono yang sudah tergeletak berserakan di lantai kamar. Tidur bersebelahan tanpa ada yang membatasi sentuhan kulit kami.

Wisnu menggeliat lagi dan dia membuka matanya, sambil tersenyum dia meraih tubuhku.

Tubuh kami menyatu dalam bungkusan selimut, menguap dalam satu kehangatan.

Di luar kilatan petir menyambar dan sepersekian detik kemudian lampu kamar kami tiba-tiba mati. Sepertinya petir menyebabkan arus litrik di daerah itu terputus. Tapi kami tidak beranjak, tubuh kami bahkan semakin erat menyatu seakan tidak akan bisa dilepaskan lagi. Kami saling membelai, berkomunikasi dengan bisikan tanpa arti yang penuh makna.

Malam itu, nafsu menuntun kami, dia mengajari apa yang semestinya kami lakukan. Pengetahuan, aturan dan norma tidak berguna saat itu, hanya nafsu yang berperan. Nafsu dan naluri.

82 Responses to “write and share : petikan dari novel gagal”

  1. Pertamaaaaaxxzz

    uihhh……
    Keringatann
    euy
    Bacanya…

  2. weleh, bacanya jd menggebu2, hahaha

  3. iki sing gagal apane?
    adus uwis…
    ngono kuwi yo uwis..
    turu bareng yo uwis…
    gagal ping telune? ha..ha… embuh ah..

  4. Dimuat di sini aja to bung, novelnya. Sak bab, sak post, ntar kan kelar. (Kok bau-baunya pengalaman pribadi tapi dng sudut pandang yg dibalik ya. Ora ngarani lo iki)

  5. He… keren banget. udah ngantuk jadi semangat lagi.
    Sampai-sampai gak tahan pengen…. ha…ha…
    Mantapsssss

  6. Hmmmmmm……agak saru, atapi kerasa nggak saru ya…xixixixix

  7. Lha terus WISNU nya tanggung jawab ndak…😀

  8. Wah..wah….Wisnu harus bertanggung jawab tuh 🙂
    Btw link sudah aku add ya ? 🙂

  9. Salam Takzim
    Mengunjungi sahabat di pagi hari menjelang siang dengan membawa sedikit harapan semoga tetap keranda kebahagiaan menyertai pemilik blogger ini bersama sajian novelnya yang seru
    Salam Takzim Batavusqu

  10. simak dulu ahhh komen belakangan

  11. wah detil banget ini. Gaya penulisan yang saya inginkan. Sampai logo villapun bisa terbayangkan. Saluut.

  12. salam kenal
    Kren Banget mas… buatku ceritanya manusiawi banget..he he he he

    Salam

  13. jadi agak anget neh sayah…😀

  14. kok, cuma segini aja? lanjutannya ?

  15. heuheu bb17 jg kalah😀

  16. ups … nutup mata tapi masih mbaca
    hanya merani membayangkan apa yang sedang terjadi hhehehehe syereemm

  17. sialaann ..

    ko gag ada Pics ato video nya ??:mrgreen:

  18. Mantap ceritanya, liriknya sangat menyatu dalam jiwa pembaca

  19. Ditunggu lanjutannya. Sudah d bookmark ko.🙂

  20. datang mengunjungi teman n bilang bahwa tugas pasang link udah terlaksana

  21. apik, biar pembaca menterjemahkan sendiri saja.
    Salam hangat dari Surabaya

  22. wah maaf banget Mas baru terespon sekarang, linknya sudah saya pasang ya. Silakan dicek. trims. Salam🙂

  23. mangtafff
    lanjutkan bos

  24. Bwahahaha aku yo keringetan.
    Wah berbakat ki.

    Rock on, bro.

  25. hmmm… serem ah. mati lampu pasti makin banyak setannya

  26. huakakakakakak…….
    berrrrrrrrrrrrsssssss…
    bro alam endah keasyikan baca jadi ngga pertamaxxxxx…
    ini tulisannya mas aji kah..?
    wow. kereennnnn….

  27. link nya sudah di add mas… terimakasih sudah pasang linkblog ku…..

  28. wes, pokoknya mantep dah cerita akang nih..
    semangattt

  29. Oleh-oleh cerita dari Shanghai ….

    Rok Nyolowadhi

    “Halôôôôôôô, …. “
    “Halô? Kôwé nang ndhi, jeng?”
    “Iki aku lagi nang ndhalan sepi dhitûtké wong lanang. Aku wedhi, mas”
    “Mlakuo luwîh rikat”
    “Nèk aku rikat, wong kuwi mèlu rikat. Piyé iki?!!!”

    “Copoten cawetmu!”
    “Lhô?”
    “Wîs to, manuto aku. CD copoten … trûs buwang!!!”
    “Lhô?”
    “Copot lan buwangen!!!”
    “Wîs! Wongé nututi aku, … piyé iki?”

    “Madepo memburi. Silakno rokmu!”
    “Lhô, kok malah, … ?“
    “Wis to, nggugu aku!! Silakno rokmu! Kétokno barangmu!”
    “Wis!!! …. “

    “Ungkurono wong kuwi, pledîngno bokongmu lan silakno rokmu nganti kétok cetho”
    “Wis!!! …. “
    “Mbagagah, bèn kétok cetho!”
    “Wis!!! …. “

    “Wong lanangé piyé?”
    “Ucûl2 kathok dhowo. Aku wedhiiiii!”
    “Kathok dhawané wîs tekan ngisor dengkûl dhurûng?”
    “Wis!!! …. “
    “Wîs mlotrokké cawet?”
    “Wîs!”
    “Tekan ndengkûl?”
    “Wîs!”
    “Mlayuuuuuuuuuuuuuuuuuuu!!!!!”

    …………………

    “Piyé saiki?”
    “Aman, wîs tekan nggon ramé”
    “Wong lanang mau piyé?”
    “Ngôyak nîng kesrimpet kathoke, pijer tiba-tibo kréngkangan nganti krungkep”

  30. HHmm…Kok bisa ya mengolah kata2 perbuatan yang fulgar menjadi sebuah rangkaian kata yang mengalir……
    Membacanya bagaikan mendengar rekaman kaset yang berputar pelan namun pasti he he he…🙂

    Salam semangat selalu
    http://garasiusaha.wordpress.com/

  31. baca sedikit pargraf awal langsung bertanya2. kenapa judulnya novel gagal?
    the author is dead. biar saja pembaca yang menentukan mau seperti apa novel itu.

  32. nggak ada rencana utk dibuat e- book saja Mas ?
    Salam.

  33. yang gagal mananya?

    • gagal ngelanjutin novelnya mas. sampai sekarang masih nyangkut di harddisk ajah…
      postingan ini juga niatnya supaya semangat lagi buat ngelanjutuin. nulis novel ternyata susah😦

  34. Wah, kalo saya sih gak berani nulis yang ginian…
    Lah, nulis cerpen aja udah beerapa judul tapi cuma sampe paragraf satu doang…😦
    Yang semangat mas, nulis novelnya… ntar kalo terbit, kasih saya satu ya… hehehe😆

Trackbacks

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: