Anak itu menghampiriku dan kulihat bibirnya bergerak-gerak tapi tak kudengar kata yang dia ucapkan. Hanya sebuah senyum ramah yang bisa kurasakan.
Perlahan aku lepas helm yang baru saja aku pakai, dan sumpal telinga elektrik yang menghembuskan hangatnya nafas Rod Steward kala mendendangkan lagu Have I Told You Lately that I Love You juga kulepas. Dan kebisingan bumi kembali menyeruak ke dalam telinga. Beberapa suara membuat telingaku perih.
“Ada apa?” tanyaku.
“Mas, mau kemana? Kalau boleh saya mau numpang ke Karangpandan…”
Aku perhatikan anak itu dengan sedikit curiga, seorang anak kecil biasa. Hanya itulah kesan yang bisa aku dapat saat melihatnya. Maklum, aku memang bukan Sherlock Holmes yang mampu tahu tentang siapa, apa, dan bagaimana hanya dengan melihat saja. Tapi dari logat dan cara bicaranya aku bisa menduga kalau dia bukan orang lokal.
“Saya kehabisan bus, mas…”
“Ayolah, naik!”, kataku.
Dengan senyuman khas anak kecil, dia meloncat ke boncengan sepeda motor tuaku.
“Terima kasih, mas…”
Anak itu adalah seorang pedagang siomai keliling. Dia ngontrak bersama teman-teman sesama pedagang keliling di Karangpandan, dan setiap pagi dia berangkat ke Tawangmangu yang berjarak kurang lebih 12km dari kontrakannya untuk berjualan.
“Umurmu berapa?”
“13 tahun…”
Seorang anak 13 tahun setiap hari harus berjalan memikul dagangan yang lebih berat dibanding tubuhnya sendiri. Menjajakan dagangan dari pagi sampai petang. Kehujanan, kepanasan, merasakan apa yang seharusnya tidak dirasakan oleh anak seusianya.
Dia hebat!!!
***
Orang kampung memanggilnya si leher beton. Tapi dia bukan petinju, sama sekali bukan. Si leher beton versi kampungku ini adalah seorang wanita muda penjual sate ayam keliling.
Kenapa disebut si leher beton? Karena dia meletakkan dagangannya di atas kepala sambil berjalan menawarkan sate dagangannya. Hanya menggunakan kekuatan lehernya saja. Berjalan mantab dengan langkah cepat sesekali melirik ke bawah jika jalanan yang dilaluinya sedikit berlobang. Tak sekalipun kami lihat ataupun dengar dia menumpahkan benda-benda di atas kepala itu.
Sore itu aku perhatikan cara dia mengangkat dagangannya kemudian meletakkan di atas kepala. Begitu luwes dan tanpa ada sedikitpun keraguan. Berjalan setiap hari dengan beban di atas kepala. Apa ya ndak pegel itu leher? Makanya kami menmberi dia julukan si leher beton.
Bukan sebuah julukan untuk menghina, tapi sebagai ungkapan kekaguman.
Dia memang hebat!!!
***
Pernahkah kalian mengamati orang-orang di sekitar anda, dan menemukan kehebatan-kehebatan mereka? Suatu kemampuan yang terlihat simpel dan sederhana tetapi tidak bisa anda lakukan?
Saya yakin pernah! Bahkan kalau dalam kasus saya, saya harus berkata sering sekali. Tetapi seringkali kita tidak menyadari kehebatan mereka ini karena kita ‘enggan’ untuk mengakuinya.
‘hanya seperti itu saja, apa hebatnya? Aku juga bisa…‘
Kenapa kita harus berkata seperti itu? Kenapa kita tidak dengan jujur mengakui saja kelebihan orang lain? Mudah bukan?
Tidak!!! Sama sekali tidak mudah.
Sebenarnya untuk mengakui kehebatan orang lain itu sulit. Karena keakuan mencegah kita untuk mengakui bahwa dia lebih hebat dari aku.
kenapa tulisan ini bisa sampai ke masalah ‘aku’? kan rencananya cuma mau menunjukkan bahwa banyak orang hebat di sekitar kita…masalah si aku ini dibahas lain kali aja
Amati orang-orang di sekitar anda. Perhatikan cara dia melakukan sesuatu dan anda akan menemukan banyak orang hebat di sekitar anda.
Selanjutnya? Terserah anda. Akui kehebatan mereka atau anggap biasa aja, itu hak anda.







