Mereka terlihat duduk bersama dalam diam.
Saling pandang dalam hening, sampai salah satu dari mereka memecahkan sepi saat dia berkata,
“Aku tahu siapa kamu…”
Tapi ‘dia’ tidak menjawab, pandangan matanya tajam menelusuri wajah pria perlente di depannya.
“Reputasimu sudah aku dengar. Aku punya penawaran yang mungkin menarik untukmu…”
Dia mengalihkan tatapannya ke bayi yang sedang tidur di pelukan. Kemudian dia melambai ke arah pelayan warung.
“Tolong isikan botol ini dengan air hangat. Jangan terlalu panas..” katanya.
Tak lama, pelayan itu sudah kembali dengan botol yang sudah terisi seperti yang diminta oleh tamu misteriusnya itu. Dengan penuh ketenangan dia mempersiapkan susu formula untuk bayinya.
“Aku adalah seorang kolektor…dan barang koleksiku yang terbaik semuanya adalah kiriman darimu. Karena itulah aku mengajak kamu untuk bekerja sama…”
“Aku tidak pernah merasa mengirimkan apapun kepadamu…” jawabnya tanpa mengalihkan perhatian dari botol di depannya.
“Kamu pernah, walaupun kamu tidak sadar. Kamu tahu apa yang aku koleksi? Nyawa dari orang-orang yang mati dibunuh. Itulah koleksiku. Indah sekali bukan?”
Laki-laki itu menghentikan sejenak gerakan tangannya mengaduk susu. Wajahnya tidak menunjukkan ekspresi apapun, tapi pernyataan dari lawan bicaranya ini tetap saja menimbulkan rasa heran.
“Menyedihkan sekali… Laki-laki seperti kamu terdampar di sebuah warung kumuh di pinggiran kota seperti ini. Membuat susu botol…” pria perlente tersenyum sinis.
“Terima tawaran pekerjaan ini dan engkau akan berada dalam keadaan yang jauh lebih baik daripada sekedar berkelana menggendong bayi tanpa tujuan yang jelas. Apa kamu tidak kasihan dengan bayimu? Dia berhak mendapatkan yang lebih dari ini.”
Perlahan laki-laki itu menutupi botol susu anaknya agar terhindar dari lalat.
“Anakku tidak butuh rasa kasihan dari….makhluk seperti kamu…”
Anak itu bergerak sedikit dalam pelukannya…
“Anakku sebentar lagi terbangun. Sebaiknya kamu segera pergi dari sini. Aku tidak mau dia melihat wajahmu…”
“Bagaimana dengan tawaran dariku? Kamu mau kan bekerja untukku? Saya rasa tidak sulit untukmu, lagipula kau suka membunuh bukan?”
“Aku membunuh karena aku ingin membunuh. Aku tidak membunuh karena ada yang menyuruhku. Aku bukan budak, tidak ada yang bisa mengaturku. Dan…sampai kapanpun juga aku tidak akan pernah bekerja sama dengan iblis. Segera pergi atau kau akan menyesal…”
Pria perlente itu terdiam sejenak, tatapan matanya tajam dan terasa panas. Dengan suara mendesis dia berbisik, “Kaulah yang akan menyesal…”
“Mungkin…kita lihat saja nanti…” jawab laki-laki itu tenang.
Tiba-tiba pria perlente terkekeh, “Aku suka kamu…”, katanya sebelum melangkah pergi dari tempat itu.
***
catatan penulis,
saya tidak tahu apakah cerita ini akan bersambung atau tidak. asal nulis aja, tapi yang jelas cerita ini masih ada hubungannya dengan si Tattoo…Well, yang penting nulis ajalah, entah jadinya apa nanti.
Salam,







