Alam meradang! hanya itu yang melintas dalam benak saya ketika membuka halaman kompas dan detik. Judul-judul artikelnya membuat hati saya miris. 71 Jenazah Dievakuasi ke RSU M. Jamil, Kerusakan Setara Gempa Yogyakarta, Sudah 37 Mayat Tewas Ditemukan, Ratusan Warga terjebak di Gedung Bertingkat. Belum lagi artikel tentang kebakaran lereng gunung lawu yang sudah menghanguskan sekitar 1.500 hektar hutan. Bencana melanda dimana-mana. Kebakaran di hutan gunung Lawu belum selesai disusul dengan gempa di Sumatera. Prihatin…
Saya nggak tahu harus nulis apa disini. Bingung! Saat ini saya sedang marah, marah dengan alam, marah dengan manusia, marah dengan keadaan. Mengapa bencana alam selalu terjadi? Apa kita tidak bisa melakukan sesuatu untuk mengantisipasinya? Lebih jauh apa kita tidak mampu mencegah agar tidak terjadi bencana-bencana semacam ini?
Sudah berapa ribu manusia yang terenggut nyawanya? Dan yang membuat saya lebih marah dan prihatin adalah sebagian besar bencana terjadi karena ulah kita sendiri.
Saya akan me-repost sebuah coretan puisi lama yang saya buat setelah gempa yang terjadi di Jawa Barat beberapa waktu yang lalu. Puisi ini merupakan ekspresi saya untuk menyuarakan kekesalan terhadap manusia yang tidak henti-hentinya merusak alam ini, dan sebuah tulisan yang dapat mewakili perasaan saya saat ini.
don’t enjoy it! karena ini merupakan makian bagi kita!
Mentari 45 derajat, membidik dari arah barat
ketika aku teriak, bangsat !
kenapa kau rusak aku ?Kalian babat hutanku, dan banjir merajalela
Kalian tak pernah jera
dasar manusia tak berakhlak berotak botak
kalian bahkan kuliti aku, beset dagingku, jarah darahku
dan aku sekaratsaat bencana menyapa ribuan nyawa
“Aku kapok” menggema, tapi ternyata tidak !
dalam keadaan setengah mati
aku tetap kalian gagahi
sperma busuk merasuki, mengalir jauh merusak rahimdan aku hanya diam dalam kesedihan
melihat nyawa berlomba pergi dari sisi,
kasihan kalian…
karena kerusakan demi kerusakan telah terakumulasi
menunggu waktu menuju kebinasaanBumi terevolusi menjadi bom sejati…
Kalian gemborkan nama noordin,
seekor anjing yang membuat kalian merinding
bak kucing bunting berbibir sumbing disiram air kencingBah! Dasar noordin sinting !
Keturunan raja maling !tapi aku, akulah yang harus kalian takuti !
karena aku mampu berbuat seratus kali lebih dari
si anjing noordinsetiap aku goyangkan kelingking,
sebuah kota terpontang-panting
jika lengan yang kugerakkan,
bencana kan melandaaku bukan Tuhan, aku bukan kalian
aku hanyalah bumi yang sudah hampir matirawatlah aku, dan kan aku rawat kalian
saat ini,
memang sudah hampir terlambat,
tapi tiada kata telat tuk bertobataku sayang kalian, tapi ku tak mampu menahan jika sendiri
dan lagi-lagi,
kalian mengutuk aku karena jawa barat bergoyang bukan karawang,
tapi bergoyang penuh pengorbananaku tak ingin terjadi lagi tragedi
ribuan nyawa melayang, jangan biarkan terulangby linduaji
Untuk para korban bencana alam dimanapun. Saya sebagai salah satu “perusak alam” memohon maaf kepada kalian. Saya masih yakin bahwa Tuhan akan membuat segalanya indah pada waktunya.
God bless you all…







